“Seragam tersebut diperoleh melalui internet. Hal ini terungkap karena desainnya tidak sesuai. Dia merantau dari Palembang ke Jakarta dan meminta izin kepada keluarganya untuk melamar pekerjaan sebagai pramugari, tetapi gagal,”
DAYA NUSANTARA – Kepolisian Resor Kota (Polresta) Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Polda Metro Jaya, telah mengamankan dan memanggil seorang wanita bernama Khairun Nisa (23) yang mengatakan dirinya adalah awak kabin (pramugari palsu) di maskapai Batik Air.
Pemeriksaan ini dilakukan oleh pihak berwenang Bandara Internasional Soetta sebagai respons atas viralnya penemuan di media sosial (medsos) terkait penumpang yang mengenakan seragam pramugari lengkap di penerbangan Batik Air ID 7058 dari Palembang (PLM) menuju Jakarta (CGK) pada pukul 18. 20 WIB pada hari Selasa (6/1) lalu.
Kasat Reskrim Polres Bandara Soekarno Hatta, Kompol Yandri Mono, menyatakan di Tangerang pada hari Kamis bahwa setelah pemeriksaan, wanita tersebut dengan sengaja mengenakan seragam Batik Air karena sudah berbohong kepada keluarganya, mengklaim bahwa ia bekerja sebagai pramugari.
Kejagung: Kedatangan penyidik di Kemenhut cocokkan data kawasan hutan
“Seragam itu diperoleh secara daring. Terungkap karena tampaknya berbeda dari yang asli. Dia merantau dari Palembang ke Jakarta dan meminta izin keluarga untuk melamar sebagai pramugari, tetapi tidak diterima,” ungkapnya.
Yandri menambahkan bahwa dalam perjalanannya, wanita dari Palembang tersebut sempat menggunakan jalur cepat bagi awak kabin. Namun, para petugas kabin pesawat melihat dan merasa curiga, sehingga melaporkannya ke petugas Avsec Bandara Soekarno Hatta untuk dilakukan pencegahan.
“Karena malu, dia tetap mengaku kepada keluarga telah diterima bekerja di Batik Air, padahal kenyataannya tidak demikian,” jelasnya.
Polisi hentikan pemeriksaan Richard Lee karena kondisi kesehatannya memburuk
Mengenai alasan di balik penggunaan seragam pramugari tersebut, Yandri menjelaskan bahwa ini berakar dari pengakuannya kepada keluarga bahwa ia sudah bekerja sebagai pramugari. Oleh karena itu, tindakan nekatnya adalah untuk menutupi kebohongannya itu.
“Motifnya hanya sekadar rasa malu kepada keluarganya. Saat kejadian, pesawatnya sudah hampir lepas landas, sehingga dia tidak punya waktu untuk mengganti seragam dan tetap mengenakan seragam itu selama penerbangan kembali ke Jakarta. Saat ini, dia sudah mengakui kesalahannya, meminta maaf, dan telah dipulangkan ke keluarganya,” tambahnya.***
